Nanda Puspita – Statistika47 IPB

To change yourself means to change the future

Management Class – Department of Management, College of Economics and Management, Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Decision Making: The Essence of the Manager’s Job and Foundations of Planning

Setiap individu faktanya adalah seorang manajer bagi struktur kehidupan. Minimal mengatur kegiatan hidup miliknya sendiri. Wajarnya, suatu kehidupan tidaklah selalu berjalan mulus. Setiap individu pasti akan diuji pengalamannya dalam menghadapi masalah. Karena itulah diperlukan esensi seorang manajer untuk menentukan keputusan dalam mengatasinya. Seperti halnya seorang teman saya. Sebut saja A.

A adalah seorang mahasiswa S1 jurusan statistika IPB dan sebentar lagi akan menghadapi pekan ujian tengah semester (UTS). Baginya keputusan yang paling sulit periode ini adalah untuk memrioritaskan mata kuliah yang harus dipelajari terlebih dahulu. Namun setelah menganalisis dari berbagai aspek, seperti kemampuan dan tingkat kepentingan tiap mata kuliah yang ada, maka ia memutuskan untuk mengurutkannya sebagai berikut:

1. Pengantar Hitung Peluang. Mata kuliah ini adalah prasyarat bagi mata kuliah utama yang ada di Departemen Statistika seperti Teori Statistika I dan II dan lagi dilihat dari kemampuan yang dianggap belum cukup menunjang pada bidang ini.

2. Aljabar Matriks. Mata kuliah yang dicap sebagai penurun nilai IPK karena bahasa yang disampaikan dosen tidak terlalu dapat dipahami oleh banyak siswa. Sehingga seringkali dianggap sebagai momok yang menakutkan.

3. Algoritma dan Pemrograman, Mata kuliah yang cukup sulit, karena perlunya logika yang tinggi untuk memahami soal dan menerjemahkannya ke dalam bentuk program. Mata kulaih ini dapat digunakan dalam software statistic seperti minitab, spss, dan sebagainya. Latihan yang berkelanjutan akan sangat membantu meningkatkan intuisi dalam mengerjakan soal.

4. Kalkulus II. Mata kuliah dasar Departemen Statistika. Basic Kalkulus 1 dari tingkat TPB sangat membantu sehingga cukup ada gambaran untuk materi-materi yang masih baru.

5. Metode Statistika. Walaupun dasar pokok mata kuliah Statistika, namun sebagian besar materi sudah termasuk dalam Pengantar Hitung Peluang.

6. Pengantar Logika Matematika. Mata kuliah supporting course dan basicnya telah dipelajari di tingkat TPB.

7. Pengantar Manajemen. Mata kuliah supporting course. Karena A acapkali lemah dalam sesi menghafal teori yang cukup banyak dalam jangka waktu lama, maka mata kuliah ini akan dipelajarinya beberapa hari menjelang ujian. Konsep utamanya yang akan ia fokuskan.

Analisi di ataslah yang mendasari pengambilan keputusan yang diambil oleh A dalam menghadapi masalahnya dalam persiapan UTS

Nanda Puspita – Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

Management Class – Department of Management, College of Economics and Management, Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

SESSION 4

Tanggung jawab sosial perusahaan.

Questions :

1. Bagaimana sebaiknya pengaturan tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia?

2. Bagaimana masalah pelaksanaan tanggung jawab sosial di Indonesia?

Answers :

1. Tanggung jawab sosial adalah aktivitas koorporasi yang bisa diwajibkan oleh hukum berdasarkan pada nilai moral dan etika dengan sosial reporting terhadap masyarakat. Tanggung jawab sosial ini diatur secara tegas di Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Hal ini dilatarbelakangi oleh amanat Undang-Undang Dasar 1945 mengenai perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial harus diatur oleh Negara. Pemerintah berkeinginan untuk mencegah dan mengurangi rusaknya lingkungan yang diakibatkan oleh operasional korporasi yang tidak memperhatikan lingkungan hidup dan masyarakat disekitarnya.

2. Masalah pengaturan dalam UUPM dan UUPT harus direvisi dengan konsep dan definisi CSR yang sama dan lebih jelas sebagai acuan pelaksanaan. Sumber pembiayaan sebaiknya tidak perlu ditentukan secara definitif karena CSR tidak selalu berkaitan dengan biaya. Saat ini, produk-produk tertentu yang dipasarkan ternyata masih banyak yang mempengaruhi buruknya kondisi lingkungan, baik berupa kerusakkan ekologi maupun kesehatan manusia. Padahal, sebagaimana setiap makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Karena itu, perlu pengawasan tehadap bahaya kerugian yang menimpa pihak masyarkat (konsumen) dan lingkungan hidup.

Nanda Puspita – Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Management Class – Department of Management, College of Economics and Management, Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

SESSION 3 – Managing in a Global Environment

Seiring dengan zaman yang semakin maju, tantangan-tantangan dari dunia global mulai muncul dan menuntut masyarakat untuk menciptakan sebuah manajemen berluang lingkup global. Beberapa tantangan yang dimaksud contohnya adalah:

  • Munculnya para pesaing baru secara tiba-tiba
  • Proses memahami perbedaan budaya, politik, dan ekonomi
  • Menghindari Parokialisme (pandangan sempit terhadap dunia)
  • Dll.

Adanya proses pengadaptasian dari hal di atas memunculkan berbagai teori sudut pandang dalam proses manajemen global, yaitu:

  • Sikap EtnosentrisPendekatan dan praktek kerja yang paling baik adalah berasal dari negara asalnya.
  • Sikap PolisentrisPara manager di negeri tuan rumah (host country) mengetahui pendekatan dan praktek kerja terbaik.
  • Sikap Geosentris Memusatkan perhatian pada penggunaan dan pendekatan orang yang terbaik dari seluruh dunia.

Beberapa pendekatan yang dilakukan oleh para manajer untuk mengelola perusahaan dan menjadikannya global, adalah:

  • Exporting (Mengekspor) – membuat produk di dalam negeri dan menjual ke luar negeri.
  • Importing (Mengimpor) – menjual produk dari negara lain di dalam negeri.
  • Licensing (Melakukan Lisensi) – memberikan kepada organisasi lain hak untuk menggunakan merk, teknologi, atau spesifikasi produk anda.
  • Franchising (Pewaralabaan) – hampir sama dengan licensing namun dengan membayar.
  • Strategic Alliances (Aliansi Strategi) – melibatkan kemitraan antara organisasi tertentu dengan perusahaan asing di mana keduanya berbagi sumber daya dan pengetahuan guna mengembangkan produk baru atau membangun fasilitas produksi.
  • Joint Venture (Usaha Patungan) –  aliansi strategis tertentu di mana rekannya setuju untuk membentuk organisasi yang terpisah dan independen untuk mencapai tujuan bisnis tertentu.
  • Foreign Subsidiary (Anak Perusahaan Luar Negeri) – mencakup investasi langsung di negara asing dengan mencirikan fasilitas produksi atau kantor yang terpisah atau independen.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengelola perusahaan dalam lingkup global:

  • Lingkungan politik dan hukum
    Lingkungan politik dan hukum di suatu negara berpengaruh terhadap perekonomian negara tersebut. Karena lingkungan politik dan hukum yang stabil di suatu negara akan mengundang para investor untuk masuk dan menanamkan modal atau berinvestasi di negara tersebut.
  • Lingkungan Ekonomi
    Seorang manajer harus mengetahui sistem perekonomian di negara tersebut sehingga manajer tahu apa yang akan dilakukan dengan sistem ekonominya. Selain sistem ekonomi, seorang manajer juga harus mengetahui tingkat pertukaran mata uang, tingkat inflasi, dan beragam kebijakan pajak sehingga bisa menekan biaya atau pengeluaran dari perusahaan.
  • Lingkungan Budaya
    Seorang manajer harus mengetahui lingkungan budaya yang mereka hadapi sehingga bisa meningkatkan produktivitas di perusahaan tersebut.

Nanda Puspita – Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Management Class – Department of Management, College of Economics and Management, Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

Question for SESSION 3

Boderless organization adalah jenis organisasi global yang menghilangkan batas-batas geografis artifisial. Organisasi apa yang merupakan contoh dari jenis organisasi ini?

Apa yang dimaksud dengan “masyarakat menerima fakta bahwa kekuasaan dalam lembaga dan organisasi itu terbagi secara tidak merata” dalam pengertian jarak kekuasaan sebagai kerangka kerja Hofstede untuk memahami budaya?

Nanda Puspita – Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

Management Class – Department of Management, College of Economics and Management, Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

SESSION 2

Budaya kelas pengantar manajemen, kamis 07.00 – 09.30, Rk V 2.03

Kelompok:

Nanda Puspita             G14100004

Asty Khoiri I.S.          G14100011

Hidayati Tamimi         G14100021

Fadhillah Ramadhanti G14100031

Menurut kami, budaya yang ada di kelas berdasarkan 7 dimensi budaya organisasi, adalah orientasi tim, karena kelas ini masih dalam masa awal perkuliahan dan terdiri dari berbagai macam departemen. Sehingga banyak mahasiswa yang masih berinteraksi dengan teman satu departemennya saja dan belum mengenal teman-teman yang lainnya.

Sampai saat ini belum terlihat adanya hambatan kepada dosen akibat dari budaya ini, karena kegiatan perkuliahan baru kuliah dan diskusi kecil.

Nanda Puspita – Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

 

Management Class – Department of Management, College of Economics and Management, Bogor Agricultural University

Lectures Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc (www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id)

SESSION 1 – Disciplines and Objectives as Manager’s Character

18 Agustus 2011 – Pertama kalinya saya mengikuti perkuliahan Pengantar Manajemen sebagai mata kuliah supporting course yang diadakan oleh Departemen Manajemen.  Sering kita mendengar kata-kata yang berhubungan dengan manajemen. Namun sebenarnya apa sih manajemen itu? Seperti apa? Siapa sih yang disebut manajer?  Nah, pada perkuliahan kali ini saya, atau tepatnya kami (para mahasiswa), diberikan pemahaman tentangnya. Definisi tentang manajemen sebenarnya sangat banyak. Beberapa para ahli memiliki pengertian manajemen menurut sudut pandangnya masing-masing. Namun secara umum kata manajemen di ambil dari kata bahasa inggris yaitu “manage” yang berarti mengurus, mengelola, mengendalikan, mengusahakan, memimpin. Manager adalah seseorang yang bekerja sama dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada, mengoordinasikannya untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kata-kata manager yang kita kenal biasanya berhubungan dengan suatu organisai. Walau secara tidak disadari, sebenarnya kita semua, setiap hari, setiap waktu selalu melakukan kegiatan manajemen. Ketika kita akan makan, kuliah, belajar, dan sebagainya. Kita mengoordinasikan diri kita sendiri agar mampu mengerjakan sesuatu secara bertahap, efisien, dan mencapai tujuan. Baik dari segi pikiran, ucapan, maupun perbuatan. Inilah yang biasa kita kenal dengan self management. We’re being manager  of our own life.

Manager sebenarnya terdiri dari beberapa tingkatan. Dimulai dari yang paling tertinggi jabatannya, yaitu Top managers, Middle managers, First line managers, dan non managerial employees. Top managers adalah orang yang mengoordinasikan secara keseluruhan, Middle managers dan first line managers adalah orang yang mengoordinasikan  bawahannya dalam bidang tertentu, sedangkan non managerial employess bertugas mengoordinasikan diri sendiri dan apa yang dikerjakannya. Setiap tingkatan memiliki pendekatan skills masing-masing. Top Managers memiliki pendekatan konsep berfikir, yang mengatur segala keputusan kebijakan. Middle managers dan first line manager memiliki pendekatan humanis atau bekerja sama. Terakhir, non managerial employees memiliki pendekatan teknis. Nah! Yang manakah Anda?

Nanda Puspita – Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Bogor Agricultural University

Sebuah sikap mental yang mempengaruhi kerja suatu pikiran, biasanya ke arah sesuatu yang positif. It can change and improve your life, setidaknya begitulah pemaparan orang-orang mengenai definisi dari berfikir positif atau istilah lainnya positive thinking. Banyak orang mengatakan bahwa kekutan dari berfikir positif adalah salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan.

Sebenarnya, saya baru mengerti pentingnya berfikir positif ketika saya memasuki tingkat SMA. Ketika itu sedang MOS, para senior tidak ada lelahnya mengatakan, “Positive thinking, Dek!”. Saya berfikir, segitu pentingnya kah positive thinking untuk kehidupan? Apakah itu efektif dan berguna? Yang saya pahami saat itu, positive thinking adalah tidak berfikir yang macam-macam. Namun kegiatan-kegiatan MOS mendesak saya untuk berfikir positif. Pada awalnya memang sulit, untuk memprioritaskan pikiran positif di antara pikiran-pikiran yang meresahkan. Namun lama-kelamaan jadi terbiasa, bahkan kini saya jadikan sebagai prinsip hidup karena positive thinking sangat membantu untuk melalui berbagai macam masalah, mental maupun fisik. Lagipula dalam islam memang kita dianjurkan untuk selalu khusnuzon atau berfikir yang baik. Saya telah hidup selama 17 tahun lebih, dan pastilah saya sadar, setiap ujian itu ada sisi positifnya, atau bahkan ujian tersebut lah yang akan meningkatkan kualitas anda.

Sebagai contoh, sewaktu saya kecil, bahkan sebelum saya masuk saya masuk tk umur 4 tahun, ayah saya sudah melatih saya matematika bahkan hingga hitung menghitung untuk bilangan tingkat ribuan. Latihan tersebut terbilang cukup keras, secara ayah saya seorang yang sangat tegas dan terdapat beberapa hukuman fisik untuk latihan itu. Namun ternyata latihan memperoleh hasil yang cukup baik (walaupun ayah saya sekarang sudah sadar cara tersebut terlalu kasar :P). Saya kini memiliki basis yang cukup baik di bidang matematika, bahkan matematika lah yang menjadi sumber penopang nilai rapor.
Pernah suatu saat saya terkena demam, kepala terasa berat, dan seluruh badan terasa sakit. Saya selalu berkata pada diri sendiri, ‘ Saya baik-baik saja. Saya sehat. Lihat saja, saya masih ceria!’ sambil terus tersenyum dan bersemangat saya mencoba mengerjakan sesuatu yang lain. Setiap saya sakit saya selalu seperti itu. Menyugestikan pada diri sendiri bahwa saya sehat. Alhasil saya pun sembuh dengan meminimalisir permakaian obat-obatan. Dan memang cara pengobatan seperti itu telah diterapikan di luar negeri dan bahkan terbukti dapat menyembuhkan total suatu penyakit yang bahkan sulit untuk diobati. Setelah belajar dari pengalaman, saya menyadari, mungkinkah positive thinking dapat menonaktifkan saraf rasa sakit untuk sementara? Biarlah itu menjadi pr saya untuk dicari informasinya dan dianalisi. Sekian pengalaman yang menginspirasi saya untuk selalu berpikir positif.

Keoptimisan, kerja keras, dan berfikir positif ternyata memang membuahkan hasil yang optimal. Melihat teman-teman saya yang berjuang sangat keras demi mendapatkan universitas yang diinginkan, saya merasa tidak ada apa-apanya. Secara saya masuk IPB hanya dengan memberikan berkas-berkas rapor dan lainnya, sedangkan teman-teman saya dengan giatnya mereka terus belajar, les di sana sini demi masuk ke universitas favorit. WOW! Saya tertegun melihat mereka, berjuang dengan sangat keras. Sedangkan saya?

Salah satu teman saya bercerita tentang perjalannya, dan itu sangat menginspirasi saya. Dimulai dari perjalannya memasuki tingkat SMA. Sejak kecil beliau bercita-cita untuk meneruskan pendidikan di Institut Teknologi Bandung, Karena itu beliau sangat bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengikuti tes di SMAN 1 Bogor (smansa). Namun dalam perjalanannya beliau selalu terbayang betapa beratnya lawan-lawan yang akan beliau hadapi kelak dan mulai ragu akan kesanggupannya. Pada saat itulah, ketika mendengar  smansa mengadakan pembukaan kelas aksel, beliau berfikir bahwa kelas aksel pastilah peminatnya lebih sedikit dibandingkan dengan kelas SBI, maka dari itulah beliau mengikuti ujian saringan masuk aksel dan ternyata berhasil.
Setelah  2 tahun menjalani masa-masa SMA, beliau masih berfikir ‘Betapa pengecutnya saya. Mengapa memilih aksel? Hanya karena pesertanya sedikit? Setelah beliau sadar bahwa pikiran-pikiran itu tidak akan membuahkan apa-apa slain kegagalan, beliau mencoba berubah, tapi memang sulit, ditambah dengan kegagalan-kegagalan yang datang bertubi-tubi seperti meneriakkan bahwa beliau memang tidak mampu. Dalam aktivitasnya beliau terlihat tetap optimis, terus mengikuti les, tambahan, bahkan mencoba nekat ke Bandung tanpa teman-teman. Tapi dalam hati Beliau terus pesimis seiring dengan smakin bertambahnya ptn yg menolak beliau.

Tujuh tes perguruan tinggi pun menolak beliau sehingga membuatnya sangat down dan makin tidak percaya diri. Saat itu beliau sedang kos di Bandung untuk les di SSC demi masuk ITB. Setelah lama berkutat dengan perasaan pesimisnya, beliau memutuskan untuk menemui psikolog di SSC dan ternyata psikolog tersebut meminta beliau untuk menulis (grapho-therapy). Membuat lebih dari 1 karangan tiap harinya. Setiap hari beliau mencoba menekuni kegiatan menulisnya dan ajaib, rasa percaya diri beliau makin meningkat hari demi hari. Hingga akhirnya beliau diterima di 3 ujian masuk ptn berikutnya dan 2 diantaranya adalah ujian masuk ITB.
Setelah belajar dari pengalaman beliau, memang ternyata pikiran-pikiran kotor memang dapat mengacaukan kesuksesan. Karena itulah optimis dan berfikir positif memang sangat dianjurkan untuk memperkuat dinding pertahan untuk mencapai cita-cita.